
Demikian diungkapkan oleh Arief Rahardjo, Head of Research & Advisory at PT Cushman & Wakefield Indonesia dalam diskusi "Prospek dan investasi kondominium pada tahun 2012" di Jakarta, beberapa waktu lalu. Menurut Arief, selama masih banyak perumahan di sekitar bangunan kondominium dikhawatirkan permintaannya menyusut.
"Kalau masih banyak perumahan landed dengan harga lebih murah, pasti masyarakat memilih itu ketimbang kondominium," ujarnya.
Selain mencermati lokasi, kata Arief, untuk menarik minat pembeli kondominium maka pengembang sebaiknya menciptakan produk atau konsep unik.
Saat ini, wilayah yang cukup sukses untuk pengembangan kondominium adalah Jakarta Selatan dan Jakarta Pusat. Kondominium di Jakarta Selatan sangat diminati karena sasaran pasarnya adalah para ekspatriat, sementara di Jakarta Pusat diminati lantaran dekat dengan kawasan bisnis segitiga emas Jakarta.
"Pengembangan di kedua kawasan ini masih sangat baik. Untuk pre sale di atas 65 persen, penjualannya mencapai 95 persen," kata dia.
Sedangkan di kawasan lain, lanjutnya, dikhawatirkan kurang menuai sukses seperti halnya kondominium di Jakarta Selatan dan Jakarta Pusat. Kekhawatiran tersebut mencakup akses jalan bebas kemacetan, memiliki target market yang jelas, serta harga jualnya lebih mahal dari rumah tapak.
"Pengembang harus jeli mencermati hal-hal ini," ujarnya.
Sumber : Kompas.Com